Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

About

STORY IS MY LIFE


Kehidupan yang penuh dengan lika-liku akan terasa lebih indah jika disamping menjalani hidup kita juga menggoreskan warna-warna pelangi selaras dengan jalan kehidupan yang diinginkan. Waktu yang terus berjalan,, takdir yang selalu terjadi juga membuat hidup kita penuh cerita, suka duka dan canda tawa.
 Aku Puput Anggriani, biasa di panggil Puput. Aku lahir di Banjarnegara, 05 November 1998. Hobiku membuat karya sastra. Aku duduk di kelas XI TKJ 3 SMKN 1 Bawang. Berbagi cerita yang merupakan aib keluarga memang tidak baik. Dan terasa sulit pula jika aku harus melontarkan isi hatiku yang kian terpendam ini. Tapi entah lah, sekiranya semua akan mengurangi beban pikiranku.
 Bahagaia ? tak selamanya seorang hamba selalu merasa bahagia, Kebahagiaan yang kian larut dalam perjalanan hidupku membuatku lupa akan kasih sayang yang terasa dari belaian orang tua. Di saat aku berada dalam kandungan ibu, aku yang seharusnya mendapat perhatiaan lebih dari ayah tapi entah kemana bayangan sosok seorang ayah.   Hingga akhirnya aku lahir di Dunia ciptaan-Nya ini tak kurasa sentuhan alunan adzan yang terdengar di gendang telingaku dari ayah. Bahkan di usiaku yang menginjak 3 tahun kedua orang tuaku berpisah. Aku yang kecil dan tak mengerti apa-apa hanya bisa meratapi dan merasakan selayaknya anak kecil yang meminta sesuatu tak dituruti. Usia yang kian menginjak dewasa membuatku ingin tahu alasan dan sebab dari broken home keluargaku yang terjadi. Walau hati terasa sakit, perasaan terasa perih semua tak mengeluhkanku untuk mencari tahu alasan kenapa semua ini terjadi.

Tiba saatnya aku main ke tempat ayah, yang sebelumnya istri ayah belum tahu kalau ayahku sudah memiliki anak. Setelah melihat aku dan mengetahuinya mereka bertengkar. Ketakuatan yang mengalir dalam perasaanku membuat aku ingin pergi dan menjauh dari situasi itu. Karena saat itu usiaku masih kecil, aku hanya bisa menangis dan menangis. Tak ku ingat lagi wajah ayah dan isti barunya itu. Aku yang di tinggal Ibuku pergi bekerja keluar kota. Tinggal lah aku di desa dengan keluarga Budhe dari Ibu.
Hidup memang indah, begitu adilnya yang Maha Kuasa. Meski aku tak lagi bersama orang tua, setidaknya aku masih bersyukur karena masih ada Budhe dan keluarganya yang mau merawat dan menjagaku. Sekolah dasar kelas 3, aku baru sadar kalau aku juga memiliki ayah layaknya teman-temanku yang memiliki keutuhan keluarga. Meski itu awal aku bertemu dengan ayah, setelah 9 tahun yang lalu. Waktu yang terus berjalan tak akan membuat aku lupa akan sosok seorang ayah, karena ikatan batin seorang anak dengan orang tua tak akan memberatkan tali silaturahim. Hingga akhirnya kami berpisah lagi karna ayah dan ibu ku yang telah memutuskan untuk membangun rumah tangga yang baru lagi dengan masing-masing keinginannya.
Kini aku mempunya ayah tiri, yang dia juga menyayangi aku seperti halnya ayah menyayangi anaknya. Akhir dari sebuah kebahagiaan itu  berakhir karena sekarang aku bukan anak tunggal lagi. Telah lahir adheku yang pertama Tantan Septiana. Semenjak itulah rasa pilih kasih dari ayah tiri mulai muncul. 5 tahun berlalu, aku baru lagi ketemu dengan ayah kandungku yang juga sudah memiliki keutuhan keluarga yang baru. Anak mana si yang ngga bahagia kalu bisa ketemu sama ayahnya ? Begitu juga dengan aku, yang telah lama tak bertemu. Dibilang sakit ya memang sakit, jika harus menengok ke masa lalu. Butiran air mata yang membasahi pipiku membuat aku semakin sadar “Bagaimanapun keadaannya mereka tetap orang tuaku”. Adhe kedua yang telah lahir dari ayah tiriku Tasya Aulia Rakhmadani menambah keutuhan keluargaku. Karena anak dari ayah tiriku kini sudah putra dan putri.
Tak pernah aku sangka jika keutuhan keluarga ini juga harus terpecah belah lagi. Nasib yang telah aku alami, semua juga di alami oleh kedua adhe ku. Mendungnya awan yang juga merasakan kesedihanku, menemani kesendiriaan dalam renungan hati. Aneh,.. jika aku sampai lupa sama yang namanya perhatiaan dari orang tua. Tapi ya memang itu yang aku alami. Ingin rasanya aku mendapat belai kasih seorang Ayah dan Ibu yang bersifat permanent. Selalu ada dalam kesendirian, menemaniku dalam renungan dan selalu menghibur dalam suka duka ku. Mencoba untuk tetap tegar, itu merupakan usahaku. Ikhtiar selalu ku lakukan agar aku tetap sabar dan kuat dalam menghadapi segala ujian dan cobaan ini. Kini aku beranjak dewasa, tak ingin lagi mengingat masa lalu yang terasa pahit. Ingin ku buka lembaran baru dengan motivasi yang kuat. Satu tujuan ku adalah membuktikan kepada orang tuaku “Yes I Can”, akan aku buat mereka bangga akan prestasi anaknya.
Kini aku duduk di bangku kelas X Smkn 1 Bawang. Baru itu juga aku ketemu dengan ayah lagi. Entah kenapa setiap aku teringat cerita masa lalu tentang ayah, tak ingin rasanya aku menganggap dirinya itu sebagai ayahku. Anak juga punya hati, perasaan anak memang mudah berubah tapi tidak dengan luka yang tertoreh. Semua akan meninggalkan bekas, yang tak akan membuat aku lupa akan semua yang terjadi. Aku memang bisa menerima semua kenyataan, tapi bukan berati aku sudah mampu memaafkan semua kesalahan ayahku. Tanpa aku tahu, aku juga sudah punya 3 saudara dari ayah mereka memiliki nama Alif Mahesa, Putri, dan Dio Kholiq. Kemiripan merupakan hal yang membuat kedekatan dalam persaudaraan kami.

 Kejahatan tak boleh dibalas dengan kejahatan. Kebencian tak boleh di lampiaskan. Meski aku benci dengan ayahku tapi tak akan aku tumpahkan rasa benci itu kepada anak-anaknya yang mereka juga adheku. Keakraban yang mulai terjalin membuat rasa kerinduan saat berpisah mulai menggumpal. Aku yang sekarang duduk di kelas XI merasa lebih dan semakin dewasa untuk meniti kehidupan. Tengah semester terlapaui, Prakerin yang kini menunggu sudah tak jauh lagi. Awal pertama masuk pkl, awal juga aku ketemu dengan keluarga ayah kandungku. Adhe Dio dan Mamah Nani yang merupakan ibu tiriku juga merasa jikalau itu awal pertemuan kita. Kini baru aku rasakan  mempunyai Ibu tiri, menurutku ibu tiri tak sejahat ayah tiri yang ada dalam benak dan pikiranku. Meski mamah Nani itu ibu tiri tapi dia tak pernah membeda-bedakan aku dengan anak kandungnya. Bahagia yang sudah lama hilang dari story my life sekarang mulai hadir. Pandangan pertamaku saat melihat Dio terasa tak asing lagi, walau itu awal pertemuan ku dengannya. Adhe Dio terasa memiliki banyak kemiripan yang sama dengan adheku Tantan. Kemiripannya dalam memanggilku, menghiburku, dan tingkah lakunya yang kian membebani pikiranku membuat aku merasa rindu dengan adheku Tantan. Serasa tak ingin jauh aku dari pelukan Dio. Rindu yang menghantui keinginanku ingin ketemu dengan Tantan sekarang mulai terobati dengan kehadiran Dio yang telah mengisi keluangan hatiku. Semua terasa mimpi indah, aku dan keluarga baru ayah sekarang seperti keluarga yang utuh. Istri ayah yang dulunya membenci ku sekarang mulai menerima dan menyayangiku. Ingin rasanya aku bisa ngumpul bareng seperti itu dengan keluargaku sendiri yang utuh. Tentram rasanya, jikalau hidup berdampingan dengan keluarga yang harmonis. Penuh syukur aku menjalankan semua itu, takdir yang sangat indah…
Perpisahan merupakan suatu hal yang tak di inginkan dalam sebuah pertemuan. Tapi bagaimanapun, dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan. Itulah yang sekarang terjadi dalam hidupku. Ayah dan keluarganya harus pergi dan berpisah denganku. Mereka kembali ke luar kota untuk meneruskan pekerjaannya yang telah mereka tinggal selama mudik ke jawa. Berat rasanya melepas kepergian mereka. Pelukan dan ciuman dari mereka adalah hal terakhir dari pertemuan kita ini yang akan selalu mengingatkan aku dengan mereka. Bye bye untuk semuanya, hati-hati di jalan. Ku tunggu kedatangan, dan pertemuan kita kembali. I Love You My Family…

Bunda, engkau adalah muara kasih dan sayang. Dimana bunda berada, do’a Puput akan selalu menyertai Bunda. Kehadiran Bunda, Kasih sayang Bunda, Perhatiaan bunda, akan selalu Puput nanti hingga akhir hayat ini.
            Sungguh lengkap rasanya dan sudah sempurna sekali ketika kita memiliki keluarga yang utuh, karena apalagi yang kita inginkan di dunia ini, kecuali melihat orang-orang yang kita sayangi itu tersenyum indah bahagia, serta selalu merasakan manisnya kehidupan tanpa kita menceritakan kepada mereka kesulitan kita maupun pahitnya perjuangan kita.
 Untuk sahabat yang masih memiliki keluarga yang lengkap, jagalah mereka saudaraku, berilah yang terbaik untuk mereka, jangan sampai kita merasakan penyesalan suatu saat nanti. Mungkin ini sedikit menyinggung mengenai “Cinta Untuk Orang Tua Tercinta”, karena di dunia ini tidak ada yang paling berharga kecuali orang tua kita.
            "Raut wajahmu ketika kau merasa kesakitan, akan ku ingat selalu untuk ku jadikan motivasi dalam hidupku dalam membahagiakanmu, rintih suaramu kala itu akan ku ingat selalu untuk ku jadikan cambuk dalam malasku"


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar